Translate

ArabicEnglishFrenchGermanIndonesianItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

Visitors World

Flag Counter

Blog saya?


AGAMA ISLAM ADALAH AGAMA YANG HAQ (BENAR) YANG DIBAWA OLEH MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM 11.55

Dengan Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambaNya. Dengan Islam pula, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan kenikmatanNya dan meridhai Islam sebagai agama. Agama Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya agama yang diterima Allah, kepercayaan selain Islam tidak akan diterima Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan kepada seluruh manusia untuk memeluk agama Islam karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Artinya : Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada yang berhak disembah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada Kalimat-KalimatNya (Kitab-Kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk” [Al-A’raaf: 158]

Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, tidaklah mendengar seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni Neraka.”[1]

Mengimani Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan pada seluruh apa yang dibawanya bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk kafir, yaitu orang yang tidak beriman kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun dia membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia membenarkan pula bahwa Islam adalah agama yang terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang terkandung di dalam agama-agama terdahulu. Islam memiliki keistimewaan, yaitu cocok dan sesuai untuk setiap masa, tempat dan kondisi ummat.

“Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain...”[Al-Maa-idah: 48]

Islam dikatakan cocok dan sesuai di setiap masa, tempat dan kondisi ummat maksudnya adalah berpegang teguh kepada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan ummat bahkan, dengan Islam ini ummat akan menjadi baik, sejahtera, aman dan sentausa. Tetapi harus diingat bahwa Islam tidak tunduk terhadap masa, tempat dan kondisi ummat sebagaimana yang dikehendaki oleh sebagian orang. Apabila ummat manusia menginginkan keselamatan di dunia dan di akhirat, maka mereka harus masuk Islam dan tunduk dalam melaksanakan syari’at Islam.

Agama Islam adalah agama yang benar, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang yang berpegang teguh kepada agama ini dengan baik, namun dengan syarat mereka harus mentauhidkan Allah, menjauhkan segala perbuatan syirik, menuntut ilmu syar’i dan mengamalkan amal yang shalih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyu-kainya.” [At-Taubah: 33]

“Artinya : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” [An-Nuur: 55]

Islam adalah agama yang sempurna dalam ‘aqidah dan syari’at. Bentuk kesempurnaannya di antaranya adalah

[1]. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.
[2]. Memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang bersikap bohong.
[3]. Memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang bersikap zhalim.
[4]. Memerintahkan untuk bersikap amanah dan melarang ingkar janji.
[5]. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang bersikap khianat.
[6]. Memerintahkan untuk berbakti kepada ibu-bapak serta me-larang mendurhakainya.

Dan yang lainnya.

Secara umum Islam memerintahkan agar berakhlak yang mulia, bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [ An-Nahl: 90]

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Artinya : Islam dibangun atas lima hal, (yaitu); (1) bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, (2) dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, (3) menegakkan shalat, (4) membayar zakat, (5) berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah."[2]

Rukun Islam ini wajib diimani, diyakini dan wajib diamalkan oleh setiap muslim dan muslimah.

Pertama: Kesaksian tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Azza wa Jalla dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba serta RasulNya merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan ia dapat menyaksikanNya.

Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allah Azza wa Jalla. Jadi, kesaksian bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian Laa ilaha illa Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Syahadatain (dua kesaksian) tersebut merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal akan sah dan diterima bila dilakukan dengan keikhlasan hanya karena Allah Azza wa Jalla dan mutaba’ah (mengikuti) Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ikhlas karena Allah Azza wa Jalla terealisasi pada Syahadat (kesaksian) laa ilaha illallah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Sedangkan mutaba’ah atau mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terealisasi pada kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.

Faedah terbesar dari dua kalimat syahadat tersebut adalah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk dengan beribadah hanya kepada Allah saja serta tidak mengikuti melainkan hanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Mendirikan shalat artinya beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat wajib lima waktu secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya. Shalat harus sesuai dengan contoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Shalatlah kalian sebagaimana engkau melihatku shalat.” [3]

Salah satu hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.[4]

Ketiga: Mengeluarkan zakat artinya, beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla dengan menyerahkan kadar yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.[5]

Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan harta, jiwa dan moral yang buruk, yaitu kekikiran serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan ummat Islam, menolong orang fakir dan miskin.

Keempat: Puasa Ramadhan artinya, beribadah hanya kepada Allah dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan di siang hari di bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh).

Salah satu hikmahnya ialah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridha Allah Azza wa Jalla.

Kelima: Naik Haji ke Baitullah (rumah Allah), artinya beribadah hanya kepada Allah dengan menuju ke al-Baitul Haram (Ka’bah di Makkah al-Mukarramah) untuk mengerjakan syiar atau manasik Haji.[6]

Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu Haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.[7]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]
_________
Foote Note
[1]. HR. Muslim (I/134, no. 153), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
[2]. Mutafaqun ‘alaihi. HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Iman pada bab Qaulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallm: (Èõäöíó ÇúáÅöÓúáÇóãõ Úóáóì ÎóãúÓò) no. 8, Muslim dalam Kitabul Iman bab Arkanul Islam no. 16, Ahmad (II/26, 93, 120, 143), at-Tirmidzi (no. 2609) dan an-Nasa-i (VIII/107)
[3]. HR. Al-Bukhari (no. 631), dari Shahabat Malik bin Khuwairits radhiyallahu 'anhu
[4]. Lihat QS. Al-Ankabut: 45.
[5]. Lihat QS. Al-Baqarah: 43.
[6]. Lihat QS. Ali ‘Imran: 96.
[7]. Diringkas dan ditambah dari kutaib Syarhu Ushuulil Iimaan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hal. 4-10)

MEMBINA RUMAH TANGGA ISLAM 11.47

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan para shahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Rumah merupakan nikmat diantara nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, agar ia bisa berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya hujan serta udara luar, serta menyimpan barang-barang miliknya serta menutup diri dan keluarganya dari mata manusia. Allah berfirman :

"Dan Allah menjadikan untuk kalian rumah-rumah untuk tempat tinggal” (QS. An Nahl: 80) Dan masih banyak lagi manfaat-manfaat yang diperoleh manusia dari rumah ini, cuba kita bayangkan seandainya kita hidup tanpa rumah, niscaya akan banyak sekali bahaya yang mengancam kita dan keluarga, baik dari segi kesehatan, keamanan, kenyamanan maupun keselamatan. Rumah berarti tempat tinggal, tempat berkumpul dengan keluarga tempat mendidik dan melatih anak-anak kita agar tumbuh lebih dewasa dan tanggung jawab, disamping tempat yang aman bagi para wanita, Allah berfirman :

Tetap tinggalah dirumah-rumah kalian (wahai para wanita) dan janganlah tabarruj (memamerkan perhiasan kalian) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yang pertama” (QS. Al- Ahzab: 33)

Dan jika engkau amati orang-orang yang tidak punya rumah, baik karena sedang dipengungsian maupun gelandangan yang tinggal dibawah jembatan dan pinggir jalan, maka engkau akan merasakan betapa besarnya nikmat rumah yang engkau tempati.

Ketika Allah menghukum bany Nadhir Allah perintahkan Rasul-Nya untuk mengusir mereka dari rumah-rumah mereka sehingga kehilangan nikmat ini dan bercerai-berai kemana-mana. Ia berfirman:

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari rumah-rumah mereka pada pengepungan pertama” lalu berfirman : mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka dan tangan-tangan kaum muslimin maka ambilah pelajaran (darinya) wahai orang-orang yang memiliki akal” (QS. Al Hasyr: 2)

Urgensi memelihara keutuhan rumah tangga

Ada beberapa hal yang mendorong setiap muslim untuk menjaga rumah tangganya, antara lain :
1. Menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka.

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari siksa neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, diatasnya malaikat-malaikat penjaga yang kasar dan bengis, tidak menyelisihi apa yang Allah perintahkan kepada mereka dan mengerjakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka” (QS. Al Tahrim: 6)

2. Besarnya tanggung jawab yang diemban oleh pemimpin rumah tangga pada hari kiyamat dihadapan Allah swt. karena Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin tentang orang–orang yang dipimpinnya, hingga seorang kepala keluarga akan ditanya tentang keluarganya, apakah ia menjaga mereka atau mengabaikannya.

3. Rumah merupakan tempat dimana kebanyakan orang menghabiskan waktunya didalamnya, dan ia juga merupakan tempat berlindung yang dianjurkan oleh Islam ketika terjadi fitnah sehingga ia tidak terjerumus kedalam fitnah yang bergejolak dimasyarakatnya.

4. Rumah merupakan komponen terpenting dalam membentuk masyarakat yang baik dan kokoh. Jika rumah itu baik dan dibangun diatas pondasi syariah dan berpegang erat dengan syariat Allah niscaya akan terbentuk masyarakat Islami dan harmonis, kokoh menghadapi berbagai ancaman baik dari luar maupun dalam. Jika demikian urgensi rumah dalam kehidupan seorang muslim sedangkan dirumah kita banyak terajadi kemungkaran dan maksiat, maka apa saja yang menjaga kebaiakan rumah tangga?

1. Memilih pasangan yang baik.

Ketikan seseorang hendak menikah untuk membina rumah tangga hendaknya ia memilih calon pasangannya dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan hal-hal yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya niscaya engkau akan beruntung” ( Muttafa ‘alaih)

Wanita shalihah merupakan perhiasan dan kesenangan dunia yang paling utama, karena ia akan memberikan kesejukan dan ketenangan kepada suaminya serta mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah, ialah yang akan berperan besar terhadap pendidikan dan masa depan suatu bangsa. Pilihlah wanita yang penyayang dan dari keluarga yang subur dan baik-baik agar bisa memberikan keturunan kepada anda, karena Rasulullah akan berbangga dengan banyaknya umat beliau pada hari kiyamat, dan diutamakan untuk memilih wanita yang masih gadis, karena mereka ridha dengan apa yang ada pada kita dan lebih penyayang.

2. Berusaha untuk membina hubungan baik antara Suami-Isteri

Jika terjadi hubungan yang kurang harmonis antara pasangan suami-isteri, dan hal ini sering terjadi pada keadaan-keadaan seperti berikut ini :

Jika ada seseorang yang menikah dengan wanita yang awam terhadap agama Islam, maka seorang suami berkewajiban untuk mendidiknya dengan semaksimal mungkin agar ia menjadi wanita yang shalihah dan menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan keluarganya.

Berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu keimanan dan keislamannya dengan membiasakan ia untuk shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir pagi dan petang, serta mengingatkannya akan pentingnya waktu dalam kehidupan seorang muslimah, membaca buku-buku Islami, mengajarinya untuk banyak sedekah, mendengarkan kaset-kaset Islami, serta memilihkan untuknya teman-teman yang baik dan taat beragama.

3. Jadikanlah rumah sebagai tempat berzikir dan menimba ilmu

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. bersabda :”Perumpamaan antara rumah yang didalamnya disebut nama Allah dan yang tidak disebut nama Allah, bagaikan orang yang hidup dan yang mati”.

Betapa banyak rumah-rumah kaum muslimin yang sepi dari zikrullah, dipenuhi suara-suara setan dan gambar-gambar yang menyebabkan murka Allah seperti nyanyian-nyayian dan musik serta memajang poster-poster dan gambar mahluk bernyawa yang itu semua menghalangi masuknya malaikat rahmat kedalamnya.

4. Pendidikan Keimanan Bagi Keluarga

- Jadikanlah rumah sebagai tempat ibadah terutama sholat sunnah, karena sholat akan memerinya cahaya dan ketentraman bagi penghuninya, diriwayatkan dari Aisyah ra. “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sholat malam, dan jika hendak sholat witir beliau membangaunkan Aisyah dan menyuruhnya untuk sholat” (HR. Muslim )

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Semoga Allah merahmati orang yang bangun untuk sholat malam lalu membangunkan keluarganya untuk sholat, jika ia tidak mau lalu ia memercikan air kemukanya (agar ia bangun)” (HR. Abu Ahmad dan Daud).

- Kita juga wajib menganjurkan Isteri dan anak-anak kita untuk rajin bersedekah, karena hal itu menambah keimanan dan ketakwaan, Rasulullah saw juga telah menyuruh para wanita untuk banyak bersedekah karena beliau melihat kebanyakan mereka menjadi pendududk neraka. Bahkan alangkah baiknya jika kita menyediakan kotak khusus untuk menaruh sedekah dirumah agar Isteri dan anak–anak kita terbiasa untuk bersedekah. Demikian pula kita biasakan puasa Senin, Khamis dan hari-hari lain yang disunnahkan berpuasa karena hal itu akan mendorong mereka untuk mengikuti perbuatan dan kebiasaan baik ini.

- Biasakanlah untuk membaca doa-doa yang disunnnahkan untuk dibaca ketika masuk atau keluar rumah, ketika mau tidur, makan, masuk wc, berpakaian dll.

- Sering-seringlah untuk membaca surat Al Baqarah didalam rumah, karena syetan akan lari dari rumah yang didalamnya dibaca surat Al-Baqarah sebagaiamana yang disebutkan dalam riwayat Muslim.

- Kita berkewajiban untuk mendidik keluarga kita agar mengerti tentang agama Islam, baik kita didik sendiri atau melalui orang lain, kita berkewajiban mengajarkan akhlak, adab, cara beribadah, amar ma’ruf nahi munkar, dan sangat penting untuk memerikan waktu khusus untuk mengajari mereka terutama kaum wanita, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasaulullah saw terhadap Isteri-Isteri beliau dan para shahabiyah ketika beliau menyediakan hari tertentu untuk mengajari dan menasehati mereka, dan inilah salah satu bentuk aplikasi dari firman Allah yang berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu” (QS. At Tahrim: 6).

5. Membuat Perpustakaan Khusus untuk Keluarga

Termasuk hal yang sangat perlu untuk diperhatikan adalah pentingnya membuat perpustakaan khusus keluarga, dengan mengkoleksi buku-buku Islami dan ilmu pengetahuan agar dimanfaatkan oleh seluruh anggota keluarga, biasakan kita banyak membaca dan menelaah agar anak dan isteri kita rajin membaca buku dan giat belajar. Pilihlah buku-buku yang sesuai dengan tema yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga, tentang aqidah, akhlak, tafsir, hadits, kisah para nabi dan sahabatnya, para tokoh dan buku-buku lain yang menarik dan manfaat, untuk dewasa, anak-anak tua dan muda.

6. Menyediakan Kaset-Kaset dan VCD Islami

Disamping buku-buku juga perlu disediakan kaset-kaset dan CD Islami, koleksi CD dan kaset juga tidak kalah pentingnya dengan buku-buku Islami, bahkan pada saat ini orang lebih banyak tertarik kepada dua macam sarana ini, karena disamping keduanya praktis dipindah-pindah dan dibawa juga lebih mudah dicerna dibanding buku, sekalipun ia tidak cukup untuk membangun sebuah pengetahuan, tapi minimal menambah ilmu dan wawasan kita dan keluarga, apalagi bagi orang-orang sibuk yang mungkin tidak banyak waktunya untuk menelaah kitab, kaset dan CD ini boleh di dengarkan ketika ada di kenderaan atau sedang istirahat dirumah.

Terlebih lagi jika ingin mendengarkan Al-Qur’an dari berbagai macam qari, maka kedua sarana inilah yang paling epat untuk kita pilih.

7. Memberikan Kesempatan Kepada Anggota Keluarga untuk Berdialog

Adanya dialog dan keterbuklaan diantara anggota keluarga merupakan ciri keluarga yang harmonis, memang tidak diragukan lagi bahwa seorang Ayah adalah pemimpin dan penanggung jawab dikeluarganya, akan tetapi bukan berarti segala sesuatu harus diputuskan sendiri, bahkan dengan adanya masukan dan usulan dari Isteri dan anak-anak akan menghasilkan keputusan yang bijak dan disukai oleh semua anggota keluarga. Disamping itu, musyawarah ini akan sangat bermanfaat bagi anak-anak kita dikemudian hari, mereka akan merasa bahwa dirinya dihargai dan dianggap keberadaan dan eksistensinya dihadapan orang tua dan saudara-saudaranya, yang ini juga akan menjadikan mereka berlatih untuk berfikir dewasa dan bertanggungjawab serta belajar untuk menghormati dan mau menerima pendapat orang lain.

8. Jangan Menampakan Perselisiahan Dihadapan keluarga

Jika ada masalah yang sedang dialami oleh keluarga jangan sampai hal itu ditampakan dihadapan anak-anak, karena hal itu akan sangat mempengaruhi kejiwaan dan perasaan mereka, bahkan akan meampengaruhi belajar dan konsentrasinya, usahakan masalah-masalah yang ada itu diselesaikan dengan bijak dan adil tanpa harus melibatkan dan diketahui oleh anak-anak, demikian juga beban-beban ekonomi yang ditanggung oleh orang tua, sebaiknya jangan sampai banyak diketahui oleh anak-anak, karena hal itu akan mempengaruhi pikiran mereka, kecuali jika nanti mereka sudah dewasa dan boleh membantu, mungkin mereka perlu diajak musyawarah dan diminta untuk mencari solusinya.

Inilah mungkin beberapa nasehat yang perlu untuk kita simak dan kita renungi, yang kita harapkan boleh membantu kita dalam membina dan menjaga keutuhan rumahtangga serta membentuk generasi yang robbany dan masyarakat yang islamy, berpegang kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

(Abu Ziyad, disadur dari tulisan Syekh Mohammad Shalih Al Munajjid)